Latest Entries »

Indocement Award 2012

ImageImage

Advertisements

Konsep Pendidikan Islam

Pendidikan dalam bahasa Arab merujuk pada kata ta’lim, tarbiyah, ta’dib, tadris, irsyad, dan indzar. Namun istilah yang sering dipakai untuk kata “pendidikan” adalah tarbiyah[1].

Kata “tarbiyah” sendiri, berasal dari tiga kata kerja (fi’il) berikut.

1. Rabba-yarubbu yang berarti tumbuh, bertambah, dan berkembang.

2. Arba-yarba yang berarti tumbuh menjadi lebih besar, menjadi lebih dewasa.

3. Rabba-yurabbi yang berarti mengatur, mengurus, dan mendidik.

Dengan demikian, konsep tarbiyah merupakan proses mendidik manusia dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia ke arah yang lebih sempurna. Ia bukan saja dilihat sebagai proses mendidik saja tetapi meliputi proses mengurus dan mengatur supaya kehidupan berjalan dengan lancar. Termasuk dalam konsep ini, tarbiyah dalam bentuk fisik, spiritual, material, dan intelektual[2].

Sehingga secara umum, konsep pendidikan dalam Islam dapat diringkas sebagai satu proses yang berkelanjutan dalam membentuk individu baik dari segi fisik, intelektual, emosional, dan spiritual, untuk mencapai kesempurnaan hidup.


[1] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

[2] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

 

Pendidikan dalam bahasa Arab merujuk pada kata ta’lim, tarbiyah, ta’dib, tadris, irsyad, dan indzar. Namun istilah yang sering dipakai untuk kata “pendidikan” adalah tarbiyah[1].

Kata “tarbiyah” sendiri, berasal dari tiga kata kerja (fi’il) berikut.

1. Rabba-yarubbu yang berarti tumbuh, bertambah, dan berkembang.

2. Arba-yarba yang berarti tumbuh menjadi lebih besar, menjadi lebih dewasa.

3. Rabba-yurabbi yang berarti mengatur, mengurus, dan mendidik.

Dengan demikian, konsep tarbiyah merupakan proses mendidik manusia dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia ke arah yang lebih sempurna. Ia bukan saja dilihat sebagai proses mendidik saja tetapi meliputi proses mengurus dan mengatur supaya kehidupan berjalan dengan lancar. Termasuk dalam konsep ini, tarbiyah dalam bentuk fisik, spiritual, material, dan intelektual[2].

Sehingga secara umum, konsep pendidikan dalam Islam dapat diringkas sebagai satu proses yang berkelanjutan dalam membentuk individu baik dari segi fisik, intelektual, emosional, dan spiritual, untuk mencapai kesempurnaan hidup.


[1] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

[2] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

Ini adalah kata pengantar dari skripsi yang insyaAllah sudah pada tahap penyempurnaan, semoga tanggal 14 Januari 2011 bisa dikumpulkan dengan maksimal.

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan segala kenikmatan kepada setiap hamba-Nya. Termasuk kenikmatan tersebut adalah nikmat diberikan kemudahan dalam menyelesaikan pra tugas akhir ini dengan maksimal. Dan tak lupa kenikmatan yang terbesar adalah kenikmatan  akan keyakinan Islam. Dimana keyakinan tersebut tidak diberikan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya.

Penulisan dengan  tema Pondok Pesantren Mahasiswa ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis. Dimana suatu ketika salah seorang teman penulis yang juga seorang mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Gadjah Mada dengan entengnya berkata, “Titip absen ya!”. Kalimat tersebut memang dianggap wajar di kalangan mahasiswa. Namun, menurut penulis, itu sungguh tidak wajar. Bagaimana mungkin sebuah kebohongan dianggap sebagai suatu yang wajar di kalangan intelektual kampus. Itu berarti, ada sesuatu yang salah. Dan kemungkinan, sesuatu yang salah tersebut berada pada sistem pendidikan yang selama ini kita pakai.  Seharusnya, sebuah sistem pendidikan tidak hanya melahirkan orang yang memiliki kapasistas intelektual saja, namun harus bisa melahirkan orang yang seimbang antara kapasitas intelektual, moral spiritual serta emosional. Akan sangat berbahaya jika sistem pendidikan hanya melahirkan orang yang unggul dalam intelektual, namun lemah dalam moral spiritual dan emosional. Karena keuggulan intelektualnya akan digunakan untuk melakukan perbuatan negatif dimana tidak ada kontrol moral spiritual dan emosional disana.

Untuk mengubah sistem yang ada sekarang memang sulit. Namun, sebagai seorang mahasiswa program studi arsitektur, penulis memberikan sebuah solusi konkrit untuk ikut berkontribusi dalam perbaikan sistem pendidikan kampus di Indonesia. Solusi tersebut berupa pembangunan suatu sistem diluar kampus untuk mendukung sistem pendidikan kampus yang ada. Dengan fokus pada peningkatan moral spiritual dan emosional, khususnya pada wilayah Agama Islam. Pembangunan sistem tersebut diejawantahkan dalam perancangan pondok pesantren mahasiswa. Dimana di dalam pondok pesantren mahasiswa tersebut, diharapkan kapasitas moral spiritual dan emosional dari mahasiswa muslim akan semakin meningkat dan akhirnya seimbang dengan kapasitas intelektual yang sudah ia dapatkan dari sistem pendidikan kampus.

Untuk merealisasikan ini, tentunya butuh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Dan saya sebagai penulis akan mengawalinya dengan memberikan ide-ide pemikiran yang penulis tumpahkan dalam naskah pra tugas akhir ini.

Semoga apa yang penulis sampaikan bisa menyumbangkan sebuah solusi bagi permasalahan sistem pendidikan kampus di Indonesia selama ini. Dan akhirnya bisa terealisasi dan benar-benar menjadi salah satu penyelesaian permasalahan yang ada.

Satu semester penulisan, belum menjamin hasil yang solutif dan memuaskan. Namun, berfikir keluar kotak, keinginan untuk berubah, dan berfikir solutif, setidaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Selebihnya penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi penyempurnaan dan realisasinya di masa depan.

 

“Ya Allah, jika Kedokteran Unair baik bagi hamba, maka masukkanlah hamba kesana. Namun jika itu tidak baik bagi hamba, maka jauhkanlah hamba darinya. Ya Allah, jika Arsitektur UGM baik bagi hamba,  maka masukkanlah hamba kesana. Namun jika itu tidak baik bagi hamba, maka jauhkanlah hamba darinya.”

Itulah do’a yang kupanjatkan pada Yang Maha Kuasa pada tahun 2007 yang lalu sebelum menentukan pilihan dimana aku akan melanjutkan studi S1.

Dan sekarang aku merasakan bahwa Allah begitu sayang kepadaku. Aku dipilihkan sebuah jurusan yang terbaiik bagiku. Kedokteran Unair memang baik, namun belum tentu baik bagiku. Aku yakin seyakin-yakinnya bisa masuk Kedokteran Unair, namun aku tidak yakin apa aku ‘betah’ di sana. Ternyata benar, hatiku tidak terpaut di sana. hatiku telah terpaut di Arsitektur UGM. hatiku telah menemukan jalannya. Terimakasih ya Allah, Engkau memang penyayang…

Sekedar cerita dari sobat…

“Bu, Bapak berangkat ke kantor dulu ya…,”

“Nanti pulang seperti biasa?”

“Ya…, tapi mungkin agak telat karena ada kerjaan tambahan dari Bos. Umm…, mungkin jam 6 sore baru pulang”

Diatas adalah sebuah dialog yang mungkin sering kita dengar. Di keluarga kita, maupun di sinetron-sinetron yang selama ini menjadi ‘sampah’ di layar TV Indonesia.

Kerja…., ya.., kerja. Percakapan di atas berkaitan dengan kerja. Lebih tepatnya adalah ‘kerja’ yang selama ini didefinisikan oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Adakah selama ini kita sadar dan memperhatikan apa definisi kerja menurut kebanyakan masyarakat Indonesia? adakah kita sadar bahwa bisa jadi kita salah mendefinisikan kata kerja?

Emang, apa definisi kerja menurut kebanyakan rakyat Indonesia?

Definisi yang selama ini tidak disadari telah bercokol pada paradigma kita adalah sebuah aktivitas yang dimulai pada jam tertentu dan diakhiri pada jam tertentu. Berkaitan dengan jabatan dan kedudukan. Ditandai dengan adanya seragam. Ditandai dengan adanya strata atau tingkatan (bos, pegawai, karyawan, tukang sapu, dll). Dan sangat dekat dengan kata GAJI BULANAN.

“lalu, apakah itu salah?”

Saya rasa tidak salah, namun, paradigma itu telah membuat kita terkungkung dengan tradisi kerja. Padahal, menurut saya kerja itu luas, tidak hanya identik dengan kantoran, instansi, jabatan, gaji bulanan, namun lebih luas dari itu, sangat luas.

mau tau definisi kerja menurutku?

Kerja adalah SEGALA UPAYA MENYEMPURNAKAN IKHTIAR MENJEMPUT RIZKI ALLAH SWT

begitu simpel bukan? ya, karena apapun yang kita lakukan untuk menjemput rizki Allah adalah kerja. dan yakinlah, ALLAH lah YANG MAHA PEMBERI RIZKI. so, tidak perlu kawatir tiap bulan dapat gaji tetap berapa, yakinlah jika engkau tetap berusaha, insyaAllah tiap bulan akkan tetap berpenghasilan.

Dari pada berpenghasilan tetap, lebih baik tetap berpenghasilan

Hanya celotehan dari hati yang sedang bersemangat…

‘Aku tak akan mengorbankan dakwah demi kuliah. Aku tak akan juga mengorbankan kuliah demi dakwah. begitu juga dengan bisnis dan keluarga, tak akan ku korbankan keduanya demi dakwah dan kuliah’

Ibaratnya, aku mempunyai empat buah gelas yang aku isi masing-masing dengan jus mangga, jus melon, jus strawberry, dan jus alpukat. Semuanya aku isi sampai penuh.

Bukannya hanya satu gelas yang diisi dengan jus mangga 1/4, jus melon 1/4, jus strawberry 1/4, dan jus alpukat 1/4. Bukan seperti itu

Jika memang dakwah, kuliah, bisnis, dan keluarga bisa berjalan bersama-sama dengan maksimal, kenapa salah satu harus dikorbankan?

Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana jika suatu waktu dakwah benar-benar mendesak untuk segera dikerjakan sementara saat itu kita ada jadwal kuliah?”. Jika memang kejadiannya seperti itu, maka aku akan MENINGGALKAN KELAS, TIDAK MASUK KULIAH DAN MENYELESAIKAN TUGAS DAKWAH TERSEBUT.

“Lho, katanya tiidak mau mengorbankan kuliah demi dakwah?, koq gak masuk kuliah demi mengerjakan tugas dakwah?”

Apa yang menjadi keputusanku di atas hanyalah sebuah STRATEGI. Bukan berarti dengan seperti itu maka aku mengorbankan kuliah demi dakwah. Aku hanya mengatur strategi saja. Jika aku tidak masuk kuliah pada hari itu, aku masih bisa belajar dan pinjam catetan teman. Namun jika aku memilih masuk kuliah dan meninggalkan tugas dakwah yang mendesak harus aku kerjakan, bisa-bisa tugas tersebut terbengkalai, merugikan ummat sampai akhirnya membebani dan merugikan kuliah juga.

Jadi, pandai-pandailah mengatur strategi dalam memadukan keempat unsur tersebut. Jika keempat unsur tersebut benar-benar bisa seimbang, yakinlah, kebahagiaan dunia dan akhirat insyaAllah akan kita dapatkan.

Wallahu’alam bishshawab

Curahan Hati dan Pemikiran Sang Pejuang yang akan terus berjuang…

Hari ini ku belajar sesuatu yang berharga

Semangat memang dimulai dari kecintaan

Baru kusadari bahwa amanah itu haruslah dicintai sepenuh hati

Dicintai ataupun dibenci, amanah dakwah terlanjur diberi

Lebih baik dicintai

Lebih menjaga hati

Hari ini kusadari, hari ini pula ku kan memulai kembali

Membangun dan memperbaiki

Tapi sayang, amanah tersebut tinggal sebentar lagi

Tinggal beberapa minggu lagi

Andaikan ku bisa memilih, ku ingin sekali mengemban amanah itu lagi

Ingin kuperbaiki segala kesalahanku

Ingin ku membuktikan diri pada dunia

Ni, Pebri, ternyata aku bisa

Tapi itu sudah terlambat tuk kusadari

Masih beruntung ku sadar disaat ini

Terimakasih ya Allah Rabbul Izzati

Ku berjanji

Ku berjanji tuk selalu maksimal melewati ini

Jangan Kau jadikan amanah ini sebagai jalan memasukkanku ke neraka

Ingatkanlah jika diriku lupa

Ya Allah, hanya Engkaulah satu-satunya penolongku

Tiada yang lain kecuali Engkau

Engkau yang memberi amanah, Engkau juga yang akan menolongku

Pasti….

Pasti….

Terimalah sembah sujudku

Hamba-Mu yang selalu rindu berjumpa dengan-Mu

Tugu Jogja

Menguak Spirit dan Fakta Sejarah yang HilangTugu Golong GiligTugu Pal Putih

Jika kita bertanya kepada kebanyakan orang, “Apa yang menjadi ciri khas Kota Jogja?”, mungkin rata-rata akan menjawab ‘Tugu Jogja’. Memang benar,layaknya Menara Eiffel di Paris dan Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, tugu ini pun menjadi ikon tersendiri bagi Kota Jogja. Tugu ini terletak di tengah perempatan yang menghubungkan jalan utama di Jogja, yakni, Jalan P. Mangkubumi di sisi selatan, Jalan A.M. Sangaji di sisi utara, Jalan Jenderal Sudirman di sebelah timur, dan Jalan P. Diponegoro di sebelah barat. Letaknya yang strategis membuat tugu ini menjadi patokan bagi wisatawan luar jogja untuk menentukan arah tujuan wisatanya. Ke arah utara menuju Gunung Merapi, ke arah selatan menuju pantai-pantai indah selatan, ke barat menuju panorama indah gunung di Kulon Progo, atau ke arah timur menuju kompleks wisata herritage Candi Prambanan dan Kalasan.

Terpilihnya Tugu Jogja sebagai ikon Kota Jogja bukannya tanpa sebab. Tugu ini menyimpan berbagai macam klenik yang dipercaya kebanyakan orang Jawa khususnya Jogja membawa pengaruh terhadap Kota Jogja. Dari segi letaknya, tugu ini tepat terletak satu sumbu dengan Kraton Jogja. Menjadi pintu gerbang utama menuju kraton. Jika dipandang dari segi arsitektur perkotaan, pola penataan semacam ini memang biasa dipakai oleh kerajaan-kerajaan masa lalu. Pusat kerajaan diawali dengan sebuah pintu gerbang, kemudian dihubungkan dengan satu jalan panjang menuju pusat kraton. Sebelum masuk ke pusat kraton, di sepanjang jalan utama terdapat pasar dan tepat di depan kraton terdapat alun-alun. Sedangkan disisi alun-alun terdapat masjid besar. Jika kita cermati, tugu ini terletak pada satu poros antara Laut Selatan, Krapyak, Bangunan Kraton, Tugu, dan Gunung Merapi. Bahkan Sultan bisa memandang Gunung Merapi jika duduk di singgasana Siti Hinggil. Ikatan magis antara tugu, kraton, Gunung Merapi, dan Laut Selatan inilah yang dipercaya oleh masyarakat Jogja hingga saat ini, sehingga tidak mengherankan jika di tempat-tempat tersebut kerap ditemui sesaji serta ritual-ritual syirik.

Fakta membuktikan bahwa tugu yang sekarang berdiri kokoh tersebut bukanlah tugu yang asli. Tugu yang asli sudah lama runtuh akibat gempa tektonik yang melanda Jogja pada 10 Juni 1867 atau 4 Sapar Tahun EHE 1284 H atau 1796 Tahun Jawa sekitar pukul 05.00 pagi. Tugu Jogja pertama kali dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kerajaan Yogyakarta setelah Mataram Islam yang berpusat di Kartasura terpecah menjadi dua. Sebagian menjadi Kasultanan Yogyakarta, sebagian lagi menjadi Kasunanan Surakarta pada Perjanjian Giyanti tahun 1755. Tugu itu dulu disebut Tugu Golong-Gilig. Bentuk Tugu Golong Gilig juga sangat berbeda dengan tugu yang ada  sekarang. Tugu Golong Gilig berbentuk golong atau bulatan di puncaknya dan bawahnya berbentuk bulatan panjang atau gilig. Tugu Golong Gilig ini melambangkan tekad persatuan, yakni bersatunya raja dengan rakyatnya baik dalam melawan musuh maupun dalam menjalankan pemerintahan. Di sisi lain, dapat pula dimaknai sebagai hubungan  manusia dengan Sang Khaliq. Pembangunan Tugu Golong Gilig sebagai simbol bersatunya raja dan rakyat memang sesuai dengan keadaan pada waktu itu. Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kerajaan Yogyakarta, memang memulai membangun kerajaannya dengan sebuah pemberontakan dan pemisahan diri dari Kerajaan Mataram Islam yang kala itu dikuasai oleh penjajah Belanda. Sehingga, untuk meyakinkan rakyatnya dan mengubah nasionalisme mereka dari nasionalisme kepada Kerajaan Mataram Islam menuju Kerajaan Yogyakarta, maka dibangunlah Tugu Golong Gilig tersebut.Pihak yang paling gusar terhadap pembangunan Tugu Golong Gilig ini tentunya adalah penjajah Belanda. Sehingga ketika gempa tahun 1867 meruntuhkan Tugu Golong Gilig, Belanda-lah yang konsen untuk membangunnya kembali, tentunya dengan segala niat licik yang tersembunyi. Pekerjaan pembangunan tugu baru diserahkan kepada Opzichter van Waterstaat/Kepala Dinas Pekerjaan Umum JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V. Oleh pemerintah Belanda, tugu itu disebut De Witte Paal (Tugu Pal Putih).Tugu yang dibangun Belanda ternyata memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan tugu sebelumnya. Selain ketinggian yang menjadi 15 meter, padahal sebelumnya 25 meter, simbol golong sebagai raja dan gilig sebagai rakyat pun dihilangkan dan diganti dengan bentuk tugu yang ada sekarang. Tugu yang dibangun Belanda tersebut kemudian tidak lagi dikenal dengan Golong Gilig, akan tetapi berubah menjadi De Witt Paal atau Tugu Pal Putih. Tugu baru tersebut kemudian diresmikan oleh  Sri Sultan Hamengkubuwono VII pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa. Jika kita perhatikan lebih teliti, maka kita akan menemukan sebuah lambang Bintang David yang kita kenal juga sebagai lambing Zionis Yahudi di tubuh Tugu Jogja yang ada sekarang ini. Pantaslah jika lambang itu ada disana, karena memang bukan Kerajaan Jogja yang membangunnya, akan tetapi pihak penjajah Belanda yang kemungkinan besar mempunyai campur tangan dengan gerakan Zionisme Iinternasional. Wallahu’alam.

PetronasTower

  • Tinggi                                    : 1.483 ft (452 meter)
  • Pemilik                                 : Kuala Lumpur City Centre
  • Arsitek                                 : César Pelli & Associates
  • Insinyur                              : Thornton-Tomasetti
  • Kontraktor                         : Mayjus dan SKJ Joint Ventures
  • Topping Out                       : 1998
  • Official Opening                : 28 Agustus 1999
  • Height of the Towers                     : 1,482.6 feet (above street level)
  • Number of Floors                           : 88 (occupiable)
  • Gross Building Area                       : 2.3 million sqft (each tower)
  • Height of the Pinnacle                   : 241 feet
  • Size of floor plate (gross)             : Lower Floors – 28,239 sqft ; Upper Floors – 22,490 sqft to 10,000 sqft
  • Typical floor to floor height       : 13 feet 2 inches
  • Finished Ceiling Height                : 8 feet 8 inches
  • Raised Floor                                      : 5 inches (Floor 8 to Floor 72)
  • Skylobby                                            : Levels 41 and 42 (includes, Conference Center, Dining, Facilities and a prayer room)

Do you want to know my amazing adventure to Malaysia?

Please download my book Pengembaraan Bermula