Archive for July, 2010


Tugu Jogja

Menguak Spirit dan Fakta Sejarah yang HilangTugu Golong GiligTugu Pal Putih

Jika kita bertanya kepada kebanyakan orang, “Apa yang menjadi ciri khas Kota Jogja?”, mungkin rata-rata akan menjawab ‘Tugu Jogja’. Memang benar,layaknya Menara Eiffel di Paris dan Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur, tugu ini pun menjadi ikon tersendiri bagi Kota Jogja. Tugu ini terletak di tengah perempatan yang menghubungkan jalan utama di Jogja, yakni, Jalan P. Mangkubumi di sisi selatan, Jalan A.M. Sangaji di sisi utara, Jalan Jenderal Sudirman di sebelah timur, dan Jalan P. Diponegoro di sebelah barat. Letaknya yang strategis membuat tugu ini menjadi patokan bagi wisatawan luar jogja untuk menentukan arah tujuan wisatanya. Ke arah utara menuju Gunung Merapi, ke arah selatan menuju pantai-pantai indah selatan, ke barat menuju panorama indah gunung di Kulon Progo, atau ke arah timur menuju kompleks wisata herritage Candi Prambanan dan Kalasan.

Terpilihnya Tugu Jogja sebagai ikon Kota Jogja bukannya tanpa sebab. Tugu ini menyimpan berbagai macam klenik yang dipercaya kebanyakan orang Jawa khususnya Jogja membawa pengaruh terhadap Kota Jogja. Dari segi letaknya, tugu ini tepat terletak satu sumbu dengan Kraton Jogja. Menjadi pintu gerbang utama menuju kraton. Jika dipandang dari segi arsitektur perkotaan, pola penataan semacam ini memang biasa dipakai oleh kerajaan-kerajaan masa lalu. Pusat kerajaan diawali dengan sebuah pintu gerbang, kemudian dihubungkan dengan satu jalan panjang menuju pusat kraton. Sebelum masuk ke pusat kraton, di sepanjang jalan utama terdapat pasar dan tepat di depan kraton terdapat alun-alun. Sedangkan disisi alun-alun terdapat masjid besar. Jika kita cermati, tugu ini terletak pada satu poros antara Laut Selatan, Krapyak, Bangunan Kraton, Tugu, dan Gunung Merapi. Bahkan Sultan bisa memandang Gunung Merapi jika duduk di singgasana Siti Hinggil. Ikatan magis antara tugu, kraton, Gunung Merapi, dan Laut Selatan inilah yang dipercaya oleh masyarakat Jogja hingga saat ini, sehingga tidak mengherankan jika di tempat-tempat tersebut kerap ditemui sesaji serta ritual-ritual syirik.

Fakta membuktikan bahwa tugu yang sekarang berdiri kokoh tersebut bukanlah tugu yang asli. Tugu yang asli sudah lama runtuh akibat gempa tektonik yang melanda Jogja pada 10 Juni 1867 atau 4 Sapar Tahun EHE 1284 H atau 1796 Tahun Jawa sekitar pukul 05.00 pagi. Tugu Jogja pertama kali dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I, pendiri Kerajaan Yogyakarta setelah Mataram Islam yang berpusat di Kartasura terpecah menjadi dua. Sebagian menjadi Kasultanan Yogyakarta, sebagian lagi menjadi Kasunanan Surakarta pada Perjanjian Giyanti tahun 1755. Tugu itu dulu disebut Tugu Golong-Gilig. Bentuk Tugu Golong Gilig juga sangat berbeda dengan tugu yang ada  sekarang. Tugu Golong Gilig berbentuk golong atau bulatan di puncaknya dan bawahnya berbentuk bulatan panjang atau gilig. Tugu Golong Gilig ini melambangkan tekad persatuan, yakni bersatunya raja dengan rakyatnya baik dalam melawan musuh maupun dalam menjalankan pemerintahan. Di sisi lain, dapat pula dimaknai sebagai hubungan  manusia dengan Sang Khaliq. Pembangunan Tugu Golong Gilig sebagai simbol bersatunya raja dan rakyat memang sesuai dengan keadaan pada waktu itu. Pangeran Mangkubumi, yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kerajaan Yogyakarta, memang memulai membangun kerajaannya dengan sebuah pemberontakan dan pemisahan diri dari Kerajaan Mataram Islam yang kala itu dikuasai oleh penjajah Belanda. Sehingga, untuk meyakinkan rakyatnya dan mengubah nasionalisme mereka dari nasionalisme kepada Kerajaan Mataram Islam menuju Kerajaan Yogyakarta, maka dibangunlah Tugu Golong Gilig tersebut.Pihak yang paling gusar terhadap pembangunan Tugu Golong Gilig ini tentunya adalah penjajah Belanda. Sehingga ketika gempa tahun 1867 meruntuhkan Tugu Golong Gilig, Belanda-lah yang konsen untuk membangunnya kembali, tentunya dengan segala niat licik yang tersembunyi. Pekerjaan pembangunan tugu baru diserahkan kepada Opzichter van Waterstaat/Kepala Dinas Pekerjaan Umum JWS van Brussel di bawah pengawasan Pepatih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danurejo V. Oleh pemerintah Belanda, tugu itu disebut De Witte Paal (Tugu Pal Putih).Tugu yang dibangun Belanda ternyata memiliki bentuk yang sangat berbeda dengan tugu sebelumnya. Selain ketinggian yang menjadi 15 meter, padahal sebelumnya 25 meter, simbol golong sebagai raja dan gilig sebagai rakyat pun dihilangkan dan diganti dengan bentuk tugu yang ada sekarang. Tugu yang dibangun Belanda tersebut kemudian tidak lagi dikenal dengan Golong Gilig, akan tetapi berubah menjadi De Witt Paal atau Tugu Pal Putih. Tugu baru tersebut kemudian diresmikan oleh  Sri Sultan Hamengkubuwono VII pada 3 Oktober 1889 atau 7 Sapar 1819 Tahun Jawa. Jika kita perhatikan lebih teliti, maka kita akan menemukan sebuah lambang Bintang David yang kita kenal juga sebagai lambing Zionis Yahudi di tubuh Tugu Jogja yang ada sekarang ini. Pantaslah jika lambang itu ada disana, karena memang bukan Kerajaan Jogja yang membangunnya, akan tetapi pihak penjajah Belanda yang kemungkinan besar mempunyai campur tangan dengan gerakan Zionisme Iinternasional. Wallahu’alam.

PetronasTower

  • Tinggi                                    : 1.483 ft (452 meter)
  • Pemilik                                 : Kuala Lumpur City Centre
  • Arsitek                                 : César Pelli & Associates
  • Insinyur                              : Thornton-Tomasetti
  • Kontraktor                         : Mayjus dan SKJ Joint Ventures
  • Topping Out                       : 1998
  • Official Opening                : 28 Agustus 1999
  • Height of the Towers                     : 1,482.6 feet (above street level)
  • Number of Floors                           : 88 (occupiable)
  • Gross Building Area                       : 2.3 million sqft (each tower)
  • Height of the Pinnacle                   : 241 feet
  • Size of floor plate (gross)             : Lower Floors – 28,239 sqft ; Upper Floors – 22,490 sqft to 10,000 sqft
  • Typical floor to floor height       : 13 feet 2 inches
  • Finished Ceiling Height                : 8 feet 8 inches
  • Raised Floor                                      : 5 inches (Floor 8 to Floor 72)
  • Skylobby                                            : Levels 41 and 42 (includes, Conference Center, Dining, Facilities and a prayer room)

Do you want to know my amazing adventure to Malaysia?

Please download my book Pengembaraan Bermula

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
‘Its My New Blog’
Semoga coretan-coretan ini bisa menuangkan sedikit gagasan dalam pikiran. Walaupun hanya menjadi sampah, namun itu lebih baik daripada tidak dituangkan dan menjadi sampah dalam pikiran.
Lets Go !
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!