Archive for January, 2011


Konsep Pendidikan Islam

Pendidikan dalam bahasa Arab merujuk pada kata ta’lim, tarbiyah, ta’dib, tadris, irsyad, dan indzar. Namun istilah yang sering dipakai untuk kata “pendidikan” adalah tarbiyah[1].

Kata “tarbiyah” sendiri, berasal dari tiga kata kerja (fi’il) berikut.

1. Rabba-yarubbu yang berarti tumbuh, bertambah, dan berkembang.

2. Arba-yarba yang berarti tumbuh menjadi lebih besar, menjadi lebih dewasa.

3. Rabba-yurabbi yang berarti mengatur, mengurus, dan mendidik.

Dengan demikian, konsep tarbiyah merupakan proses mendidik manusia dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia ke arah yang lebih sempurna. Ia bukan saja dilihat sebagai proses mendidik saja tetapi meliputi proses mengurus dan mengatur supaya kehidupan berjalan dengan lancar. Termasuk dalam konsep ini, tarbiyah dalam bentuk fisik, spiritual, material, dan intelektual[2].

Sehingga secara umum, konsep pendidikan dalam Islam dapat diringkas sebagai satu proses yang berkelanjutan dalam membentuk individu baik dari segi fisik, intelektual, emosional, dan spiritual, untuk mencapai kesempurnaan hidup.


[1] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

[2] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

 

Pendidikan dalam bahasa Arab merujuk pada kata ta’lim, tarbiyah, ta’dib, tadris, irsyad, dan indzar. Namun istilah yang sering dipakai untuk kata “pendidikan” adalah tarbiyah[1].

Kata “tarbiyah” sendiri, berasal dari tiga kata kerja (fi’il) berikut.

1. Rabba-yarubbu yang berarti tumbuh, bertambah, dan berkembang.

2. Arba-yarba yang berarti tumbuh menjadi lebih besar, menjadi lebih dewasa.

3. Rabba-yurabbi yang berarti mengatur, mengurus, dan mendidik.

Dengan demikian, konsep tarbiyah merupakan proses mendidik manusia dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia ke arah yang lebih sempurna. Ia bukan saja dilihat sebagai proses mendidik saja tetapi meliputi proses mengurus dan mengatur supaya kehidupan berjalan dengan lancar. Termasuk dalam konsep ini, tarbiyah dalam bentuk fisik, spiritual, material, dan intelektual[2].

Sehingga secara umum, konsep pendidikan dalam Islam dapat diringkas sebagai satu proses yang berkelanjutan dalam membentuk individu baik dari segi fisik, intelektual, emosional, dan spiritual, untuk mencapai kesempurnaan hidup.


[1] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

[2] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

Ini adalah kata pengantar dari skripsi yang insyaAllah sudah pada tahap penyempurnaan, semoga tanggal 14 Januari 2011 bisa dikumpulkan dengan maksimal.

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan segala kenikmatan kepada setiap hamba-Nya. Termasuk kenikmatan tersebut adalah nikmat diberikan kemudahan dalam menyelesaikan pra tugas akhir ini dengan maksimal. Dan tak lupa kenikmatan yang terbesar adalah kenikmatan  akan keyakinan Islam. Dimana keyakinan tersebut tidak diberikan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya.

Penulisan dengan  tema Pondok Pesantren Mahasiswa ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis. Dimana suatu ketika salah seorang teman penulis yang juga seorang mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Gadjah Mada dengan entengnya berkata, “Titip absen ya!”. Kalimat tersebut memang dianggap wajar di kalangan mahasiswa. Namun, menurut penulis, itu sungguh tidak wajar. Bagaimana mungkin sebuah kebohongan dianggap sebagai suatu yang wajar di kalangan intelektual kampus. Itu berarti, ada sesuatu yang salah. Dan kemungkinan, sesuatu yang salah tersebut berada pada sistem pendidikan yang selama ini kita pakai.  Seharusnya, sebuah sistem pendidikan tidak hanya melahirkan orang yang memiliki kapasistas intelektual saja, namun harus bisa melahirkan orang yang seimbang antara kapasitas intelektual, moral spiritual serta emosional. Akan sangat berbahaya jika sistem pendidikan hanya melahirkan orang yang unggul dalam intelektual, namun lemah dalam moral spiritual dan emosional. Karena keuggulan intelektualnya akan digunakan untuk melakukan perbuatan negatif dimana tidak ada kontrol moral spiritual dan emosional disana.

Untuk mengubah sistem yang ada sekarang memang sulit. Namun, sebagai seorang mahasiswa program studi arsitektur, penulis memberikan sebuah solusi konkrit untuk ikut berkontribusi dalam perbaikan sistem pendidikan kampus di Indonesia. Solusi tersebut berupa pembangunan suatu sistem diluar kampus untuk mendukung sistem pendidikan kampus yang ada. Dengan fokus pada peningkatan moral spiritual dan emosional, khususnya pada wilayah Agama Islam. Pembangunan sistem tersebut diejawantahkan dalam perancangan pondok pesantren mahasiswa. Dimana di dalam pondok pesantren mahasiswa tersebut, diharapkan kapasitas moral spiritual dan emosional dari mahasiswa muslim akan semakin meningkat dan akhirnya seimbang dengan kapasitas intelektual yang sudah ia dapatkan dari sistem pendidikan kampus.

Untuk merealisasikan ini, tentunya butuh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Dan saya sebagai penulis akan mengawalinya dengan memberikan ide-ide pemikiran yang penulis tumpahkan dalam naskah pra tugas akhir ini.

Semoga apa yang penulis sampaikan bisa menyumbangkan sebuah solusi bagi permasalahan sistem pendidikan kampus di Indonesia selama ini. Dan akhirnya bisa terealisasi dan benar-benar menjadi salah satu penyelesaian permasalahan yang ada.

Satu semester penulisan, belum menjamin hasil yang solutif dan memuaskan. Namun, berfikir keluar kotak, keinginan untuk berubah, dan berfikir solutif, setidaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Selebihnya penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi penyempurnaan dan realisasinya di masa depan.

 

“Ya Allah, jika Kedokteran Unair baik bagi hamba, maka masukkanlah hamba kesana. Namun jika itu tidak baik bagi hamba, maka jauhkanlah hamba darinya. Ya Allah, jika Arsitektur UGM baik bagi hamba,  maka masukkanlah hamba kesana. Namun jika itu tidak baik bagi hamba, maka jauhkanlah hamba darinya.”

Itulah do’a yang kupanjatkan pada Yang Maha Kuasa pada tahun 2007 yang lalu sebelum menentukan pilihan dimana aku akan melanjutkan studi S1.

Dan sekarang aku merasakan bahwa Allah begitu sayang kepadaku. Aku dipilihkan sebuah jurusan yang terbaiik bagiku. Kedokteran Unair memang baik, namun belum tentu baik bagiku. Aku yakin seyakin-yakinnya bisa masuk Kedokteran Unair, namun aku tidak yakin apa aku ‘betah’ di sana. Ternyata benar, hatiku tidak terpaut di sana. hatiku telah terpaut di Arsitektur UGM. hatiku telah menemukan jalannya. Terimakasih ya Allah, Engkau memang penyayang…

Sekedar cerita dari sobat…

“Bu, Bapak berangkat ke kantor dulu ya…,”

“Nanti pulang seperti biasa?”

“Ya…, tapi mungkin agak telat karena ada kerjaan tambahan dari Bos. Umm…, mungkin jam 6 sore baru pulang”

Diatas adalah sebuah dialog yang mungkin sering kita dengar. Di keluarga kita, maupun di sinetron-sinetron yang selama ini menjadi ‘sampah’ di layar TV Indonesia.

Kerja…., ya.., kerja. Percakapan di atas berkaitan dengan kerja. Lebih tepatnya adalah ‘kerja’ yang selama ini didefinisikan oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Adakah selama ini kita sadar dan memperhatikan apa definisi kerja menurut kebanyakan masyarakat Indonesia? adakah kita sadar bahwa bisa jadi kita salah mendefinisikan kata kerja?

Emang, apa definisi kerja menurut kebanyakan rakyat Indonesia?

Definisi yang selama ini tidak disadari telah bercokol pada paradigma kita adalah sebuah aktivitas yang dimulai pada jam tertentu dan diakhiri pada jam tertentu. Berkaitan dengan jabatan dan kedudukan. Ditandai dengan adanya seragam. Ditandai dengan adanya strata atau tingkatan (bos, pegawai, karyawan, tukang sapu, dll). Dan sangat dekat dengan kata GAJI BULANAN.

“lalu, apakah itu salah?”

Saya rasa tidak salah, namun, paradigma itu telah membuat kita terkungkung dengan tradisi kerja. Padahal, menurut saya kerja itu luas, tidak hanya identik dengan kantoran, instansi, jabatan, gaji bulanan, namun lebih luas dari itu, sangat luas.

mau tau definisi kerja menurutku?

Kerja adalah SEGALA UPAYA MENYEMPURNAKAN IKHTIAR MENJEMPUT RIZKI ALLAH SWT

begitu simpel bukan? ya, karena apapun yang kita lakukan untuk menjemput rizki Allah adalah kerja. dan yakinlah, ALLAH lah YANG MAHA PEMBERI RIZKI. so, tidak perlu kawatir tiap bulan dapat gaji tetap berapa, yakinlah jika engkau tetap berusaha, insyaAllah tiap bulan akkan tetap berpenghasilan.

Dari pada berpenghasilan tetap, lebih baik tetap berpenghasilan

Hanya celotehan dari hati yang sedang bersemangat…

‘Aku tak akan mengorbankan dakwah demi kuliah. Aku tak akan juga mengorbankan kuliah demi dakwah. begitu juga dengan bisnis dan keluarga, tak akan ku korbankan keduanya demi dakwah dan kuliah’

Ibaratnya, aku mempunyai empat buah gelas yang aku isi masing-masing dengan jus mangga, jus melon, jus strawberry, dan jus alpukat. Semuanya aku isi sampai penuh.

Bukannya hanya satu gelas yang diisi dengan jus mangga 1/4, jus melon 1/4, jus strawberry 1/4, dan jus alpukat 1/4. Bukan seperti itu

Jika memang dakwah, kuliah, bisnis, dan keluarga bisa berjalan bersama-sama dengan maksimal, kenapa salah satu harus dikorbankan?

Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana jika suatu waktu dakwah benar-benar mendesak untuk segera dikerjakan sementara saat itu kita ada jadwal kuliah?”. Jika memang kejadiannya seperti itu, maka aku akan MENINGGALKAN KELAS, TIDAK MASUK KULIAH DAN MENYELESAIKAN TUGAS DAKWAH TERSEBUT.

“Lho, katanya tiidak mau mengorbankan kuliah demi dakwah?, koq gak masuk kuliah demi mengerjakan tugas dakwah?”

Apa yang menjadi keputusanku di atas hanyalah sebuah STRATEGI. Bukan berarti dengan seperti itu maka aku mengorbankan kuliah demi dakwah. Aku hanya mengatur strategi saja. Jika aku tidak masuk kuliah pada hari itu, aku masih bisa belajar dan pinjam catetan teman. Namun jika aku memilih masuk kuliah dan meninggalkan tugas dakwah yang mendesak harus aku kerjakan, bisa-bisa tugas tersebut terbengkalai, merugikan ummat sampai akhirnya membebani dan merugikan kuliah juga.

Jadi, pandai-pandailah mengatur strategi dalam memadukan keempat unsur tersebut. Jika keempat unsur tersebut benar-benar bisa seimbang, yakinlah, kebahagiaan dunia dan akhirat insyaAllah akan kita dapatkan.

Wallahu’alam bishshawab

Curahan Hati dan Pemikiran Sang Pejuang yang akan terus berjuang…

Hari ini ku belajar sesuatu yang berharga

Semangat memang dimulai dari kecintaan

Baru kusadari bahwa amanah itu haruslah dicintai sepenuh hati

Dicintai ataupun dibenci, amanah dakwah terlanjur diberi

Lebih baik dicintai

Lebih menjaga hati

Hari ini kusadari, hari ini pula ku kan memulai kembali

Membangun dan memperbaiki

Tapi sayang, amanah tersebut tinggal sebentar lagi

Tinggal beberapa minggu lagi

Andaikan ku bisa memilih, ku ingin sekali mengemban amanah itu lagi

Ingin kuperbaiki segala kesalahanku

Ingin ku membuktikan diri pada dunia

Ni, Pebri, ternyata aku bisa

Tapi itu sudah terlambat tuk kusadari

Masih beruntung ku sadar disaat ini

Terimakasih ya Allah Rabbul Izzati

Ku berjanji

Ku berjanji tuk selalu maksimal melewati ini

Jangan Kau jadikan amanah ini sebagai jalan memasukkanku ke neraka

Ingatkanlah jika diriku lupa

Ya Allah, hanya Engkaulah satu-satunya penolongku

Tiada yang lain kecuali Engkau

Engkau yang memberi amanah, Engkau juga yang akan menolongku

Pasti….

Pasti….

Terimalah sembah sujudku

Hamba-Mu yang selalu rindu berjumpa dengan-Mu