“Bu, Bapak berangkat ke kantor dulu ya…,”

“Nanti pulang seperti biasa?”

“Ya…, tapi mungkin agak telat karena ada kerjaan tambahan dari Bos. Umm…, mungkin jam 6 sore baru pulang”

Diatas adalah sebuah dialog yang mungkin sering kita dengar. Di keluarga kita, maupun di sinetron-sinetron yang selama ini menjadi ‘sampah’ di layar TV Indonesia.

Kerja…., ya.., kerja. Percakapan di atas berkaitan dengan kerja. Lebih tepatnya adalah ‘kerja’ yang selama ini didefinisikan oleh kebanyakan rakyat Indonesia. Adakah selama ini kita sadar dan memperhatikan apa definisi kerja menurut kebanyakan masyarakat Indonesia? adakah kita sadar bahwa bisa jadi kita salah mendefinisikan kata kerja?

Emang, apa definisi kerja menurut kebanyakan rakyat Indonesia?

Definisi yang selama ini tidak disadari telah bercokol pada paradigma kita adalah sebuah aktivitas yang dimulai pada jam tertentu dan diakhiri pada jam tertentu. Berkaitan dengan jabatan dan kedudukan. Ditandai dengan adanya seragam. Ditandai dengan adanya strata atau tingkatan (bos, pegawai, karyawan, tukang sapu, dll). Dan sangat dekat dengan kata GAJI BULANAN.

“lalu, apakah itu salah?”

Saya rasa tidak salah, namun, paradigma itu telah membuat kita terkungkung dengan tradisi kerja. Padahal, menurut saya kerja itu luas, tidak hanya identik dengan kantoran, instansi, jabatan, gaji bulanan, namun lebih luas dari itu, sangat luas.

mau tau definisi kerja menurutku?

Kerja adalah SEGALA UPAYA MENYEMPURNAKAN IKHTIAR MENJEMPUT RIZKI ALLAH SWT

begitu simpel bukan? ya, karena apapun yang kita lakukan untuk menjemput rizki Allah adalah kerja. dan yakinlah, ALLAH lah YANG MAHA PEMBERI RIZKI. so, tidak perlu kawatir tiap bulan dapat gaji tetap berapa, yakinlah jika engkau tetap berusaha, insyaAllah tiap bulan akkan tetap berpenghasilan.

Dari pada berpenghasilan tetap, lebih baik tetap berpenghasilan

Hanya celotehan dari hati yang sedang bersemangat…