Archive for 4 January 2011


Konsep Pendidikan Islam

Pendidikan dalam bahasa Arab merujuk pada kata ta’lim, tarbiyah, ta’dib, tadris, irsyad, dan indzar. Namun istilah yang sering dipakai untuk kata “pendidikan” adalah tarbiyah[1].

Kata “tarbiyah” sendiri, berasal dari tiga kata kerja (fi’il) berikut.

1. Rabba-yarubbu yang berarti tumbuh, bertambah, dan berkembang.

2. Arba-yarba yang berarti tumbuh menjadi lebih besar, menjadi lebih dewasa.

3. Rabba-yurabbi yang berarti mengatur, mengurus, dan mendidik.

Dengan demikian, konsep tarbiyah merupakan proses mendidik manusia dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia ke arah yang lebih sempurna. Ia bukan saja dilihat sebagai proses mendidik saja tetapi meliputi proses mengurus dan mengatur supaya kehidupan berjalan dengan lancar. Termasuk dalam konsep ini, tarbiyah dalam bentuk fisik, spiritual, material, dan intelektual[2].

Sehingga secara umum, konsep pendidikan dalam Islam dapat diringkas sebagai satu proses yang berkelanjutan dalam membentuk individu baik dari segi fisik, intelektual, emosional, dan spiritual, untuk mencapai kesempurnaan hidup.


[1] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

[2] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

 

Pendidikan dalam bahasa Arab merujuk pada kata ta’lim, tarbiyah, ta’dib, tadris, irsyad, dan indzar. Namun istilah yang sering dipakai untuk kata “pendidikan” adalah tarbiyah[1].

Kata “tarbiyah” sendiri, berasal dari tiga kata kerja (fi’il) berikut.

1. Rabba-yarubbu yang berarti tumbuh, bertambah, dan berkembang.

2. Arba-yarba yang berarti tumbuh menjadi lebih besar, menjadi lebih dewasa.

3. Rabba-yurabbi yang berarti mengatur, mengurus, dan mendidik.

Dengan demikian, konsep tarbiyah merupakan proses mendidik manusia dengan tujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia ke arah yang lebih sempurna. Ia bukan saja dilihat sebagai proses mendidik saja tetapi meliputi proses mengurus dan mengatur supaya kehidupan berjalan dengan lancar. Termasuk dalam konsep ini, tarbiyah dalam bentuk fisik, spiritual, material, dan intelektual[2].

Sehingga secara umum, konsep pendidikan dalam Islam dapat diringkas sebagai satu proses yang berkelanjutan dalam membentuk individu baik dari segi fisik, intelektual, emosional, dan spiritual, untuk mencapai kesempurnaan hidup.


[1] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

[2] Antonio, Muhammad Syafii. 2009. Muhammad Saw The Super Leader Super Manager. Jakarta: Tazkia.

Ini adalah kata pengantar dari skripsi yang insyaAllah sudah pada tahap penyempurnaan, semoga tanggal 14 Januari 2011 bisa dikumpulkan dengan maksimal.

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan segala kenikmatan kepada setiap hamba-Nya. Termasuk kenikmatan tersebut adalah nikmat diberikan kemudahan dalam menyelesaikan pra tugas akhir ini dengan maksimal. Dan tak lupa kenikmatan yang terbesar adalah kenikmatan  akan keyakinan Islam. Dimana keyakinan tersebut tidak diberikan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya.

Penulisan dengan  tema Pondok Pesantren Mahasiswa ini berangkat dari pengalaman pribadi penulis. Dimana suatu ketika salah seorang teman penulis yang juga seorang mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Gadjah Mada dengan entengnya berkata, “Titip absen ya!”. Kalimat tersebut memang dianggap wajar di kalangan mahasiswa. Namun, menurut penulis, itu sungguh tidak wajar. Bagaimana mungkin sebuah kebohongan dianggap sebagai suatu yang wajar di kalangan intelektual kampus. Itu berarti, ada sesuatu yang salah. Dan kemungkinan, sesuatu yang salah tersebut berada pada sistem pendidikan yang selama ini kita pakai.  Seharusnya, sebuah sistem pendidikan tidak hanya melahirkan orang yang memiliki kapasistas intelektual saja, namun harus bisa melahirkan orang yang seimbang antara kapasitas intelektual, moral spiritual serta emosional. Akan sangat berbahaya jika sistem pendidikan hanya melahirkan orang yang unggul dalam intelektual, namun lemah dalam moral spiritual dan emosional. Karena keuggulan intelektualnya akan digunakan untuk melakukan perbuatan negatif dimana tidak ada kontrol moral spiritual dan emosional disana.

Untuk mengubah sistem yang ada sekarang memang sulit. Namun, sebagai seorang mahasiswa program studi arsitektur, penulis memberikan sebuah solusi konkrit untuk ikut berkontribusi dalam perbaikan sistem pendidikan kampus di Indonesia. Solusi tersebut berupa pembangunan suatu sistem diluar kampus untuk mendukung sistem pendidikan kampus yang ada. Dengan fokus pada peningkatan moral spiritual dan emosional, khususnya pada wilayah Agama Islam. Pembangunan sistem tersebut diejawantahkan dalam perancangan pondok pesantren mahasiswa. Dimana di dalam pondok pesantren mahasiswa tersebut, diharapkan kapasitas moral spiritual dan emosional dari mahasiswa muslim akan semakin meningkat dan akhirnya seimbang dengan kapasitas intelektual yang sudah ia dapatkan dari sistem pendidikan kampus.

Untuk merealisasikan ini, tentunya butuh dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Dan saya sebagai penulis akan mengawalinya dengan memberikan ide-ide pemikiran yang penulis tumpahkan dalam naskah pra tugas akhir ini.

Semoga apa yang penulis sampaikan bisa menyumbangkan sebuah solusi bagi permasalahan sistem pendidikan kampus di Indonesia selama ini. Dan akhirnya bisa terealisasi dan benar-benar menjadi salah satu penyelesaian permasalahan yang ada.

Satu semester penulisan, belum menjamin hasil yang solutif dan memuaskan. Namun, berfikir keluar kotak, keinginan untuk berubah, dan berfikir solutif, setidaknya menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Selebihnya penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi penyempurnaan dan realisasinya di masa depan.